Tenaga kerja Indonesia semakin berperan penting di Prefektur Miyazaki, Jepang. Perusahaan-perusahaan setempat bahkan mulai menyediakan berbagai fasilitas untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman agar para pekerja dapat bertahan dalam jangka panjang. Menariknya, sejumlah PMI yang menjadi bagian dari kisah ini merupakan alumni Hibiki Cendekia, seperti Pezon Juzan Di, Mohammad Saddam Rizki, Ribanda Aditya Eka, Dimas, dan Dio.
Tenaga Kerja Indonesia di Miyazaki Kian Dibutuhkan, Perusahaan Jepang Ciptakan Lingkungan Kerja yang Nyaman
Prefektur Miyazaki, Jepang, terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung keberadaan tenaga kerja Indonesia. Hal ini terlihat setelah Gubernur Miyazaki melakukan kunjungan ke Indonesia pada Mei lalu dan menandatangani nota kesepahaman mengenai kerja sama penyediaan sumber daya manusia.
Saat ini, pekerja asal Indonesia menjadi salah satu kekuatan penting dalam mengatasi kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor industri di Miyazaki. Salah satunya di perusahaan pengolahan daging SE Meat Miyazaki yang mempekerjakan tenaga kerja Indonesia melalui skema Specified Skilled Worker (SSW) Tipe 1.
Pihak perusahaan mengakui bahwa merekrut tenaga kerja lokal untuk bekerja di pabrik bukanlah hal yang mudah. Kehadiran pekerja Indonesia pun dinilai sangat membantu menjaga kelangsungan operasional perusahaan.
Tidak hanya itu, para pekerja Indonesia juga disebut membawa suasana positif di lingkungan kerja. Sikap ramah dan semangat belajar mereka membuat hubungan antarkaryawan terjalin dengan baik hingga terasa seperti keluarga.
Untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, perusahaan menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung kebutuhan pekerja Muslim, seperti ruang salat khusus, penggunaan disinfektan tanpa alkohol, hingga penyediaan daging sapi halal yang sulit ditemukan di wilayah tersebut.
Meski demikian, tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah kendala bahasa. Perusahaan membutuhkan waktu lebih lama untuk melatih pekerja asing dibandingkan pekerja lokal karena harus menyesuaikan dengan kemampuan bahasa Jepang yang dimiliki.
Sebagai solusi, perusahaan bahkan memberikan dukungan belajar bahasa Jepang selama jam kerja dan mendorong para pekerja memperoleh visa Specified Skilled Worker Tipe 2 agar dapat tinggal dan bekerja di Jepang dalam jangka panjang.
Salah satu pekerja Indonesia di SE Meat Miyazaki, Pezon , mengungkapkan keinginannya untuk terus bekerja di Jepang. Ia mengaku senang bekerja di perusahaan tersebut dan berharap dapat memperoleh visa SSW Tipe 2 agar bisa menetap dan melanjutkan kariernya di Prefektur Miyazaki.
Di sisi lain, pekerja Indonesia lainnya, Saddam, juga menceritakan pengalamannya bekerja di Miyazaki. Ia bahkan mengaku menyukai dialek khas Miyazaki yang menurutnya unik dan membuat dirinya semakin akrab dengan lingkungan sekitar. Sementara itu, Aditya mengungkapkan rasa syukurnya karena perusahaan menyediakan fasilitas ibadah yang membuatnya merasa seperti berada di kampung halaman sendiri.
Menariknya, Pezon, Saddam, Aditya , Dimas, dan Dio merupakan alumni Hibiki Cendekia Mandala yang kini berkarier di Prefektur Miyazaki. Sebelum berangkat ke Jepang, mereka menjalani pendidikan bahasa Jepang dan pembekalan kerja sebagai persiapan menghadapi dunia industri di Negeri Sakura.
Kehadiran para alumni Hibiki di Miyazaki menjadi salah satu bukti bahwa persiapan yang matang memiliki peran penting dalam membantu tenaga kerja Indonesia beradaptasi dengan budaya kerja Jepang serta mengembangkan karier mereka di perusahaan setempat.
Per Oktober tahun lalu, jumlah tenaga kerja Indonesia di Prefektur Miyazaki tercatat mencapai sekitar 3.000 orang atau sekitar 30 persen dari seluruh tenaga kerja asing di wilayah tersebut. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring eratnya kerja sama antara Jepang dan Indonesia.
Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan tersebut, kualitas sumber daya manusia dan kesiapan sebelum keberangkatan menjadi faktor yang semakin diperhatikan. Kisah para alumni Hibiki Cendekia di Miyazaki pun menjadi inspirasi bahwa dengan bekal yang tepat, peluang untuk bekerja dan berkembang di Jepang terbuka semakin luas.